ilmupengetahuanalam.com – Pasirnya menyerupai butiran merica, air lautnya jernih membiru, dan kisah Mandalika seolah hidup di setiap debur ombak. Pantai Seger di Kabupaten Lombok Tengah bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang alami untuk menenangkan pikiran sekaligus menyelami legenda yang diwariskan turun-temurun.

Menyatu dengan Alam dan Angin Laut yang Menyegarkan

Hamparan pantai yang luas berpadu dengan semilir angin laut menciptakan suasana yang menenangkan. Duduk memandang cakrawala atau sekadar membiarkan kaki menyentuh pasir, Pantai Seger menawarkan ketenangan yang sempurna untuk melepas lelah dari hiruk pikuk keseharian.

Lokasi Strategis dengan Akses yang Mudah Dijangkau

Pantai Seger berjarak sekitar 57 kilometer dari Kota Mataram dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 50 menit perjalanan darat. Meski belum dilalui angkutan umum, akses menuju pantai ini tergolong mudah. Wisatawan disarankan menggunakan kendaraan sewaan dengan rute menuju Pantai Kuta Lombok, lalu melanjutkan perjalanan ke arah timur sejauh sekitar dua kilometer.

Laut Biru Jernih yang Mengundang untuk Berenang

Air laut Pantai Seger tampak biru jernih dan menyegarkan. Siapa pun akan tergoda untuk menceburkan diri menikmati kesegaran lautnya. Saat air surut, karang-karang di dasar laut terlihat jelas dan dapat ditapaki hingga ke arah tengah laut. Jika beruntung, pengunjung juga bisa menyaksikan ikan-ikan kecil yang bersembunyi di sela-sela karang.

Destinasi Tepat bagi Pencari Ketenangan

Suasana Pantai Seger yang relatif sepi menjadikannya tempat ideal untuk bersantai. Berjemur, membaca buku, atau sekadar duduk menikmati panorama laut menjadi aktivitas sederhana yang terasa istimewa di pantai ini.

Legenda Putri Mandalika yang Melekat di Pantai Seger

Di balik pesona alamnya, Pantai Seger menyimpan kisah legenda yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Legenda tersebut berkisah tentang Putri Mandalika, putri cantik keturunan Raja Tonjang Beri, yang menjadi rebutan banyak pangeran dari berbagai kerajaan.

Pengorbanan Sang Putri demi Perdamaian

Ketika para pangeran sepakat mengadakan peperangan untuk memperebutkan Putri Mandalika, sang putri memilih jalan damai. Setelah melakukan semedi, pada tanggal 20 bulan ke-10 dalam penanggalan Sasak, Putri Mandalika mengumpulkan seluruh pangeran yang pernah melamarnya. Ia menyatakan bahwa tidak seorang pun berhak memilikinya, karena dirinya telah ditakdirkan untuk menjadi milik seluruh rakyat.

Tradisi Bau Nyale, Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan

Usai menyampaikan keputusannya, Putri Mandalika terjun ke laut dan menghilang tanpa jejak. Tak lama kemudian, nyale atau cacing laut muncul ke permukaan dalam jumlah besar. Sejak saat itu, tradisi bau nyale atau menangkap nyale digelar setiap tahun di Pantai Seger sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan sang putri. Nyale tidak hanya ditangkap, tetapi juga diolah sebagai makanan yang dipercaya kaya akan protein.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *