ilmupengetahuanalam.com – Dataran Tinggi Dieng dikenal sebagai salah satu kawasan candi Hindu tertua dan terluas di Indonesia. Luas area percandian di wilayah ini diperkirakan mencapai sekitar 90 hektare. Sayangnya, hingga kini baru sebagian kecil dari candi-candi tersebut yang berhasil direstorasi dan dapat dinikmati oleh pengunjung.
Revisi Lokasi dan Luas Kompleks Candi Arjuna
Kompleks Candi Arjuna berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, dengan luas area sekitar 1 hektare. Kawasan ini menjadi pusat perhatian wisata sejarah Dieng karena kondisi bangunannya relatif lebih lengkap dibandingkan candi-candi lain di sekitarnya.
Revisi Penemuan dan Penyelamatan Candi
Kompleks Candi Arjuna pertama kali ditemukan pada abad ke-18 oleh seorang tentara Belanda bernama Theodorf Van Elf. Pada masa penemuan tersebut, kondisi candi sangat memprihatinkan karena tergenang air. Sekitar 40 tahun kemudian, upaya penyelamatan awal dilakukan oleh H. C. Cornelius dan dilanjutkan oleh J. Van Kinsbergen.

Revisi Gaya Arsitektur (hindari awalan “Candi” berulang)
Perbedaan masa pembangunan juga tercermin dari gaya arsitektur masing-masing bangunan. Arsitektur Candi Arjuna masih sangat kental dengan pengaruh candi-candi India. Sebaliknya, pada Candi Sembadra sudah terlihat pengaruh kebudayaan lokal yang lebih kuat.
Revisi Bagian Arca (variasi struktur)
Saat berkunjung ke Kompleks Candi Arjuna, pengunjung tidak akan menemukan arca di dalam bangunan candi. Ruang-ruang candi tampak kosong dan hanya menyisakan tempat peletakan arca. Sebagian besar koleksi arca tersebut kini disimpan di Museum Kailasa, sementara sisanya dinyatakan hilang.
Revisi Tradisi dan Aktivitas Adat
Hingga kini, Kompleks Candi Arjuna masih dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan adat dan keagamaan. Upacara Galungan menjadi salah satu ritual yang rutin dilaksanakan di kawasan ini. Selain itu, area percandian juga kerap digunakan sebagai lokasi ruwatan anak gimbal, tradisi khas masyarakat Dieng.
